Tips Solo Traveling ke Jepang à la Tim Baller
Solo traveling ke Jepang jadi impian banyak orang karena menawarkan pengalaman bepergian sendiri yang aman, tenang, dan tetap seru. Sistem transportasi publik yang sangat terintegrasi, kota yang ramah pejalan kaki, serta budaya lokal yang unik membuat Jepang cocok untuk solo traveler, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman. Persiapan yang matang, mindset yang fleksibel, dan perlengkapan yang mendukung mobilitas akan sangat membantu selama perjalanan.
Bela, anggota tim Baller yang hobi traveling, membagikan pengalamannya saat solo traveling ke Jepang. Ia menyebutkan bahwa tingginya tingkat keamanan, transportasi publik yang efisien, serta keramahan penduduk lokal membuat perjalanan terasa jauh lebih nyaman, bahkan untuk first timer yang baru mencoba solo traveling.
Persiapan Penting Sebelum Solo Traveling ke Jepang
Sebelum solo traveling ke Jepang, ada beberapa hal penting yang perlu disiapkan, mulai dari itinerary, barang bawaan, hingga koper yang digunakan. Bela menyarankan itinerary yang fleksibel, karena Jepang sering menghadirkan kejutan di luar rencana. Transportasinya memang efisien, tapi justru itu yang membuat keinginan untuk eksplor tempat baru sering muncul di tengah perjalanan.
“Kadang nemu spot menarik pas lagi di jalan, jadi sayang kalau itinerary-nya terlalu kaku,” cerita Bela.
Soal barang bawaan, prinsip Bela adalah semakin minimal, semakin nyaman. Ia memilih membawa pakaian secukupnya karena salah satu agendanya di Jepang adalah belanja. Packing yang ringan memudahkan mobilitas, terutama saat harus berpindah kota atau menggunakan transportasi umum. Dalam perjalanannya, Bela membawa Check In Large Expandable dan Carry On Expandable. Carry-on ini jadi andalan karena ukurannya kompak, fleksibel untuk kabin, dan fungsional.
Fitur favorit Bela ada pada koper Carry On dengan built-in slot untuk power bank. “Buat solo traveler, ini kepake banget. Pas nunggu check-in atau jalan seharian, bisa charge HP langsung tanpa ribet cari stop kontak,” ujarnya. Fitur ini sangat membantu, mengingat ponsel jadi alat utama untuk navigasi, pembayaran, dan komunikasi selama solo traveling di Jepang.
Tips Solo Traveling ke Jepang à la Bela
Dari pengalamannya, Bela membagikan beberapa tips yang bisa jadi panduan, terutama buat kamu yang baru pertama kali solo traveling ke Jepang.
1. Rencanakan dengan Fleksibel
“Aku lebih suka merencanakan perjalanan yang fleksibel sih,” ujar Bela. Jepang relatif mudah dieksplor, bahkan dalam waktu singkat. Transportasinya yang tepat waktu dan rutenya yang jelas membuat perjalanan tetap lancar, meski itinerary berubah di tengah jalan.
2. Jangan Takut Bertanya
Meski tidak semua orang Jepang fasih berbahasa Inggris, Bela merasa mereka sangat ramah dan helpful. “Mereka selalu berusaha bantu. Kalau perlu, pakai aplikasi penerjemah di HP,” katanya. Gestur sederhana, peta, atau aplikasi translate biasanya sudah cukup untuk komunikasi sehari-hari.
3. Nikmati Kuliner Lokal
Salah satu highlight solo traveling di Jepang versi Bela adalah kulinernya. Ia merekomendasikan Dekasan Sandwich di Osaka, Izakaya lokal di Osaka, Togakushi di Kyoto. Menurutnya, restoran-restoran tersebut memiliki rasa yang autentik dan harganya masih cukup terjangkau.
4. Selalu Bawa Powerbank
Ini jadi tips wajib. “Kamu bakal banyak mengandalkan HP, mulai dari maps, jadwal kereta, sampai cari tempat makan. Jadi power bank itu lifesaver,” jelas Bela.
5. Sedia Uang Tunai
Kalau ingin eksplor pakai transportasi umum atau menikmati street food dan kuliner lokal, sebaiknya siap sedia uang tunai karena masih banyak tempat yang belum menerima pembayaran non-tunai. Pisahkan uang kertas dan koin agar lebih praktis dan mempercepat saat membayar. Selama di Jepang, Balla juga selalu membawa pouch Baller ke mana pun untuk menyimpan paspor dan uang tunai supaya tetap aman dan mudah dijangkau.
Waktu Terbaik untuk Solo Traveling ke Jepang
Berdasarkan pengalaman Bela, musim semi dan musim gugur adalah waktu terbaik untuk solo traveling ke Jepang. Musim semi, sekitar Maret hingga Mei, identik dengan bunga sakura yang bermekaran. Suasananya terasa lebih hidup dan romantis, cocok untuk jalan santai menikmati kota.
Sementara itu, musim gugur pada Oktober hingga November menawarkan cuaca sejuk dengan pemandangan daun yang berguguran. View musim gugur di Jepang sering disebut unik dan tidak biasa bagi traveler dari Indonesia. Udara yang nyaman juga membuat aktivitas jalan kaki seharian terasa lebih menyenangkan, terutama untuk solo traveler yang ingin eksplor tanpa terburu-buru.
Berapa Budget yang Dibutuhkan untuk Solo Traveling di Jepang
Soal budget, solo traveling ke Jepang memang perlu persiapan yang cukup matang. Berdasarkan pengalaman Bela, untuk perjalanan sekitar 8 hari, ia menyiapkan sekitar 375.000 yen. Estimasi ini tergantung gaya traveling dan pilihan akomodasi yang kamu pilih nantinya.
Penginapan di Jepang itu relatif lebih mahal dibandingkan beberapa negara Asia lainnya, terutama jika memilih hotel yang nyaman dan strategis. Namun, biaya makan masih bisa diatur karena banyak pilihan makanan enak dengan harga terjangkau, mulai dari convenience store hingga restoran lokal.
Sebagian besar tempat di Jepang juga sudah menerima kartu kredit, tapi tetap penting menyiapkan uang tunai, terutama untuk transportasi lokal, mesin tiket, atau belanja kecil. Jangan lupa siapkan dana cadangan jika berencana belanja atau ikut aktivitas tambahan selama perjalanan.
Solo traveling ke Jepang bisa jadi pengalaman yang sangat berkesan jika dipersiapkan dengan baik. Dengan perencanaan yang fleksibel, perlengkapan yang tepat, dan mindset yang terbuka, perjalanan sendirian justru bisa terasa lebih bebas dan personal. Untuk membantu mengatur perjalanan dengan lebih matang dan tahu lebih detail soal biaya liburan ke Jepang, simak salama artikel Rencana Budget dan Biaya Liburan ke Jepang Selama Seminggu.